Mengenai Saya

Foto saya
Tasikmalaya, Jawa barat, Indonesia
Saya sebagai perintis perpustakaan pribadi "Tandziful Qulub" sejak Tahun 1998. Saya dibesarkan di Pondok Pesantren al-Khoeriyah kel.Ciherang Kec. Cibeureum Kota Tasikmalaya provinsi Jawa Barat. saya menyukai hal-hal yang berbau filsafat sejak dibangku Aliyah, dan buku pertama yang mengilhami dan yang pertama saya baca adalah Pengantar ilmu filsafat karya Jujun suryasumantri. Sejak saat itu saya belajar segala hal meski tidak terlalu dalam karena bagi saya ada satu ilmu yang perlu saya pelihara dan saya jaga yaitu, Ilmu Tauhid atau ilmu ketuhanan Islam sebagai ilmu pokok. Kegemaran membaca buku beraroma filsafat mampu mengguggah keinginan untuk memanifestasikan kitab sumber islam, yaitu al-Qur'an sebagai kitab sumber yang mampu dibumikan sebagimana buku Prof.DR.Quraisy Shihab.

Sabtu, 27 Juli 2013

HIERARKI PUASA

Ada 3 tingkatan puasa yang dikemukakan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya "Ihya ulumuddin" Jilid 1 hal 241. Pertama Puasa Umum. Puasa umum ini disebut juga puasa "awam" yaitu menahan lapar dan dahaga serta menahan kemaluan (Farji) syahwat. Puasa ini merupakan tingkatan bawah, karena puasa umum ini hanya menahan lapar dan farji. puasa ini juga sesuai dengan pengertian puasa menurut istilah, yaitu menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga terbenam matahari. Ada nilai lebih dari puasa umum ini, yaitu menahan farji (kemaluan) dari syahwat biologis manusia. dan menahan farji ini adalah konsekuensi dari menahan lapar dan dahaga. selain dari itu, adanya pemeliharaan dan pengaturan syahwat manusia. 
orang yang terbiasa berpuasa, pencernaannya akan selalu terpelihara dan teratur. maka sewajarnya bila Nabi mengungkapkan " Shuumuu tashihu" (berpuasalah kalian maka kamu (akan) sehat". keteraturan pencernaan manusia memiliki dampak positif bagi segala hal yang ada pada diri manusia seutuhnya. terutama pada organ vital (reproduksi) manusia karena hal ini merupakan organ terpenting bagi manusia. ibarat sebuah pabrik yang dituntut menghasilkan produk yang baik. begitupun dengan hikmah puasa secara umum ini.
kedua, puasa khusus atau disebut juga puasa khawas. puasa ini adalah tingkatan puasa yang kedua yang mana seluruh panca indera dijauhkan dari perbuatan dosa. maksudnya, selain menahan lapar dan minum serta farji, ditambah pengarahan panca indera ke arah yang lebih positif dan mendatangkan nilai-nilai yang bermanfaat. seperti lidahnya (mulutnya) dipakai untuk bertadarus.
ketiga puasa khususul khusus atau khawasil khawas. puasa ini adalah puasa hati dari perbuatan hati yang tidak baik. seperti suudzzon, iri dengki dan sebagainya.tingkatan puasa ini adalah tingkatan tertinggi karena mampu menjaga inti manusia dari segala hal yang buruk. ketinggian tingkat puasa ini karena sulitnya menjaga hati dari khawatir-khawatir (gerakan-gerakan) hati yang sulit diarahkan kepada hal-hal yang positif. oleh karenanya, Alloh selalu menganjurkan untuk selalu menjaga hati melalui dzikir kepada-Nya. 
Dari ketiga tingkatan puasa diatas, terdapat kesesuaian dengan definisi Iman, dari sisi anggota badan manusia, yaitu hati, lisan dan perbuatan. Maka kita bisa lihat pada ayat tentang diwajibkannya puasa, yaitu seruan atas orang-orang yang beriman kepada Alloh SWT. 
Nilai yang terkandung dari tingkatan puasa, tidak lebih adalah sebuah pembinaan kesabaran dalam menjalankan segala yang diperintahkan oleh Alloh swt sehingga mampu menjadi orang yang paling mulia di sisi-Nya, yaitu orang yang bertaqwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar