Mengenai Saya

Foto saya
Tasikmalaya, Jawa barat, Indonesia
Saya sebagai perintis perpustakaan pribadi "Tandziful Qulub" sejak Tahun 1998. Saya dibesarkan di Pondok Pesantren al-Khoeriyah kel.Ciherang Kec. Cibeureum Kota Tasikmalaya provinsi Jawa Barat. saya menyukai hal-hal yang berbau filsafat sejak dibangku Aliyah, dan buku pertama yang mengilhami dan yang pertama saya baca adalah Pengantar ilmu filsafat karya Jujun suryasumantri. Sejak saat itu saya belajar segala hal meski tidak terlalu dalam karena bagi saya ada satu ilmu yang perlu saya pelihara dan saya jaga yaitu, Ilmu Tauhid atau ilmu ketuhanan Islam sebagai ilmu pokok. Kegemaran membaca buku beraroma filsafat mampu mengguggah keinginan untuk memanifestasikan kitab sumber islam, yaitu al-Qur'an sebagai kitab sumber yang mampu dibumikan sebagimana buku Prof.DR.Quraisy Shihab.

Senin, 16 November 2009

Senjatanya sih Sen-ja-ta..



Serampangan bila dikatakan orang tua dikibulin anak-anak. sepintas lalu, bagi orang tua itu menjengkelkan dan merupakan sebuah pelecehan, namun tak pelak lagi ibarat jalan di utara di sebelahnya jalan di selatan, lurus dan jaraknya tidak terlalu jauh. sekiranya dapat jalur tersebut sama-sama ke ujung tapi ada ilalang yang berbeda dan pemandangan yang berbeda pula. Contoh riilnya, bila adanya sebuah ketidakpantasan yang tidak bermakna dibawa kearah yang seakan-akan bermakna agar terpikir dibenak yang dipertuan menjadikannya boneka yang berkalang kabut mencari berbagai hal, agar terpikir bermakna. dua hal pula konsekuensi cerita searah bak sinetron berbuah bagi penyusun skenario. Antara menjadi boneka yang terus ditunggangi tapi tetap mendapat keuntungan atau menjadi seorang "Abu nawas", yang tetap mendapat keuntungan secara batiniyah.
Tiga hal yang menjadi Senjata manusia yang bisa menjadikannya dibawah dan diatas dalam keadaan yang menguntungkan atau tidak, yaitu akal, rasa dan aksi atau langkah. keunggulan akal menjadi sebuah titik putaran untuk melangkah atau sebuah prosesi yang sangat manusiawi sehingga akan terasa baik dengan sendirinya atau secara mendalam melalui sebuah langkah yang sesuai dengan apa yang dipikirkan.
pengaruh ketiganya sangat signifikan, kecerdasan akal mampu mempengaruhi sesamanya dan mengubah sesuatu bahkan menjadikan sesuatu yang baru (inovatif progresif).  adapun rasa bisa mempengaruhi sesamanya setelah mengalami proses yang dirasakan. selebihnya, pengaruh langkah tidak jauh beda dengan pengaruh rasa, yaitu melalui sebuah proses fase kedua dibanding pengaruh akal.
Akhirnya, baik tidaknya dari ketiga senjata yang ada terserah manusia itu, sebagai makhluk yang mendapat anugerah dari sang Pencipta Alam. apa mau mendahulukan yang satu diantara lainnya atau mengutamakan yang satu diantara lainnya bahkan kalau mau dikooperatifkan diantara ketiganya. konsekuensi yang ada pada ketiganya hanya pada satu titik fokus yang akan menjadi sebuah keteladanan dan jauh dari kegagapan dalam kehidupan.